Senin, 07 Oktober 2019

Teori Post-Strukturalisme


Teori Post Strukturalisme


               Disusun Oleh :
               Kelompok Ⅶ
                          1. M.Haris Solihin
                                                                 NIM : 07041381823155
                         2. Nur Safaruddin Baso’
                                                                 NIM : 07041381823179
                                                                 3. R.M.Ardhiansyah
                                                                 NIM : 07041381823183

                 SPHI-24115 Teori Ilmu Hubungan Internasional

Dosen Pengampu
Indra Tamsyah, SIP., M.Hub.Int





FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019/2020
Daftar Isi
Kata Pengantar ………………………………………………………………………………2
Daftar Isi …………………………………………………………………………………….3
Bab Ⅰ Pendahuluan ………………………………………………………………………….4
            A.Latar Belakang ……………………………………………………………………4
            B,Rumusan Masalah ………………………………………………………………...4
            C.Tujuan …………………………………………………………………………….4
Bab Ⅱ Pembahasan ………………………………………………………………………….5
            2.1 Sejarah Post-Strukturalisme …………………………………………………… 5
            2.2 Definisi Post Strukturalisme …………………………………………………….5
            2.3 Pemikiran-Pemikiran  Post Strukturalisme ……………………………………..5
            2.4 Perbedaan Strukturalisme & Post Strukturalisme ……………………………..6
            2.5 Kekuasaan dan pengetahuan dalam Hubungan Internasional …………………..6
            2.6 Problematisasi kedaulatan Negara ………………………………………………7
            2.7 Studi Kasus dalam Hubungan Internasional ………………………………………7
            2.8 Budaya pop dan Hubungan Internasional ………………………………………7
Bab Ⅲ Penutup ……………………………………………………………………………..8
            Kesimpulan …………………………………………………………………………8
Daftar Pustaka ………………………………………………………………………………9









BAB Ⅰ
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Secara epistimologi kata post dari post-strukturalisme merujuk pada suatu kondisi yang telah terjadi dan merupakan suatu kritik terhadap perspektif yang telah dikemukakan dulu. Strukturalisme merujuk pada konstruksi sosial, budaya dan struktur kehidupan manusia. Strukturalisme menjadi  sejarah  penting  pemikir dari Eropa  di  abad  19-an. Konsentrasinya   mendorong perubahan  cara  dan   mekanisme   bahasa sesuai dengan tutur bahasa tersebut dikembangkan. Seiring berjalannya waktu, segala sesuatu di dunia ini mengalami perubahan dan perkembangan. Isu-isu serta fenomena yang terjadi pun kian beragam. Hal ini menyebabkan fokus utama Hubungan Internasional yang pada awalnya terarahkan hanya kepada cita-cita perdamaian, solusi peperangan, dan permasalahan negara, perlahan bergeser, meluas, menjadi lebih abstrak. Setelah strukturalisme, muncul perspektif baru yaitu perspektif pos-strukturalisme. [1]
1.2 Rumusan Masalah
1.     Apa yang membuat Pos-Strukturalisme lahir?
2.     Apa saja asumsi asumsi dasar dari Pos-Strukturalisme?
3.     Apa perbedaan Strukturalisme dengan Pos-Strukturalisme?

1.3 Tujuan
1.     Untuk menjelaskan mengapan Pos-Strukturalisme lahir.
2.     Menjelaskan asumsi asumsi dasar dari Post Strukturalisme.
3.     Menjelaskan perbedaan Strukturalisme dengan Post Strukturalisme.



BAB Ⅱ
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Post-Struktralisme
Post-stukturalisme masuk sebagai unsur studi Hubungan Internasional pada tahun 1980an melalui  karya-karya dari tokoh seperti: Richard Ashley (1981,1984), James Der Derian (1987), Michael Saphiro (1988) dan R. B. J. Walker (1987, 1993) (Campbell, 2007). Seperti halnya teori kritis lainnya, post-strukturalis berupaya mengkaji bagaimana kondisi ilmu pengetahuan telah disusun oleh para perspektif tradisional.
Para kaum post-stukturalis berpendapat bahwa kaum realis telah membatasi aktor-aktor transnasional yang baru, masalah yang baru, serta hubungan-hubungannya dan gagal dalam mendengar dan menyelidik suara-suara dari pihak-pihak lain yang tidak menguntungkan selama ini (Campbell, 2007). Sehingga yang terjadi adalah ilmu pengetahuan yang terbatas dan hanya bergerak satu arah.
Poststrukturalisme juga mempertanyakan bagaimana dan mengapa suatu negara dapat dipilih sebagai aktor utama yang memiliki peran paling penting di dunia politik dan bagaimana negara dianggap sebagai aktor utama paling rasional. Padahal yang kita ketahui selama ini ialah praktik ketatanegaraan dan segala batasan yang muncul akibat state-addict itu tidak sepenuhnya terjadi secara alami dan spontan. Hal inilah yang menjadi fokus dalam post-strukturalisme (Campbell, 2007).
2.2 Definisi Post-Strukturalisme
Post-strukturalisme ini sendiri lahir akibat perdebatan atau ketidaksetujuan dari pendekatan-pendekatan teori sebelumnya. Sehingga Post Strukturalisme lahir menyempurnakan pendekatan sebelumnya. Perspektif Strukturalis lebih mementingkan ekonomi dunia sebagai inti focus pandangnya. Pos-Strukturalisme beranggapan bahwa perkumpalan yang mengikuti aturan sekarang membuat karyanya tidak sesuai dengan karya sebelumnya.
2.3 Pemikiran-Pemikiran Post-Strukturalisme
Post-strukturalis merupakan pengembangan dari strukturalis dan juga memiliki asumsi dasar.:
-Ashley, 1996: 243
Asumsinya adalah Ilmu Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi manusia. Berbeda dengan strukturalis yang menganggap identitas terbentuk dari struktur yang ada, post-strukturalis menganggap bahwa identitas dari individu atau Negara itulah yang membentuk suatu struktur. Selain itu, post-strukturalis juga berasumsi tentang pentingnya interpretasi dan representasi dalam politik internasional.
-Jackson dan Sorensen, 2013: 409
Tidak hanya intepretasi dan representasi melainkan bahasa adalah hal yang lebih penting daripada komunikasi. Bahasa merupakan bagian penting bahwa memegang peranan besar dalam bertindak dan memberikan makna dalam suatu kenyataan yang ada.
- Jackson dan Sorensen, 2013: 413
Struktur sosial yang dihasilkan secara historis merupakan hasil dari alam dan tidak dapat diubah. Hal inilah yang menyebabkan neorealis akan kesusahan untuk menghadapi perubahan yang ada dalam hubungan internasional. Selain itu, kaum post-strukturalis juga berpendapat teori yang ada dalam neorealis tidak sepenuhnya mewakili realisme. Kemudian, pandangan tradisional seperti realisme dianggap telah mengabaikan peran aktor transnasional dan terlalu fokus kepada power dan state.
-Campbell, 2007:225-226.
              Berbagai jenis-jenis asumsi dasar mengenai poststrukturalisme yaitu, pertama poststrukturalisme sebagai sikap ingin tahu yang tinggi , berdasarkan sikap tersebut sebagai usaha yang bagus yang dapat menetapkan kondisi kemungkinan hingga menciptakan sebuah alternatif. Tanggapan yang ada dalam pendekatan ini memiliki arti yang tidak menyangkal pandangan sebelumnya, namun Post Strukturalisme terus menanggapi teori sebelumnya sampai ada perubahan yang terwujud. Kedua Post Strukturalisme membuat teori-teori lain dari Hubungan Internasional sebagai sasaran yang ingin diteliti, dan pendekatan yang ada dalam teori-teori tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengekspos bagaimana teori-teori tersebut terancang. Asumsi yang ketiga ini menganggap adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dengan kekuasaan, dan seperti pandangan konstruktivisme bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi sosial. Maka, fakta sosial yang ada bukanlah pemberian melainkan hasil pandangan dan perwakilan dari manusia sendiri.[2] (Campbell, 2007).

2.4 Perbedaan Strukturalisme dan Post-Strukturalisme
- Strukturalisme melihat fakta yang ada di balik atau dalam suatu teks. Sedangkan Post     Strukturalisme lebih memfokuskan interaksi pembaca dengan teks menjadi sesuatu yang berguna.

- Kritik terhadap subjek yang terpadu, pengarang sebagai kesadaran asli.
- Kesadaran menurut postrukturalisme testruktur melalui bahasa.

2.5 Kekuasaan dan Pengetahuan dalam Hubungan Internasional
  Post-strukturalis mempunyai pemikiran bahwa kekuasaan berawal dari cara berpikir manusia, dimana mengajarkan pemikiran manusia dengan ilmu pengetahuan akan membantu manusia dalam mencapai kekuasaan, sehingga pendapat dan perwakilan dalam pemikiran kaum post-strukturalis.

2.6 Problematisasi Kedaulatan Negara
Mesir berkecamuk, Pemimpin Negara Morsi tetap berlakukan dekrit. Para pelaku demo di Kairo rusuh dengan polisi, melontari bom api dan kerikil dalam kemarahan menentang perampasan kekuasaan politik oleh Pemimpin Negara yaitu Morsi, Selasa(27/11). (Indonesia, 2012) Jadi melalui pemikiran posstrukturalisme dimana menjadi pusat dalam studi HI kedaulatan menjadi bermasalah ketika menentukan penghapusan anarki yang domestic. Kedaulatan tersebut demikian menjadi semakin bermasalah dalam mencapai kedaulatan lain, akibat sifat anarki yang sebelum melakukan kedaulatan. (Armandha, 2018)
2.7 Studi Kasus dalam Hubungan Internasional
Diskursus ialah cara menjelaskan kebenaran tentang keadaan yang sedang terjadi dimasa lalu atau di masa kini seperti Human Trafficking. Berbicara tentang Human Trafficking  Konstruktivisme sudah membahas tentang keadaan atau situasi ini. Kaum Konstruktivisme memanfaatkan sifat manusia itu, yang dikatakan bahwa sifat manusia memiliki keinginan berhubungan seksual dengan manusia  lain. Mereka menanamkan sifat bahwa manusia itu tidak memiliki martabat, begitu mereka tidak bermartabat lagi baru bisa dijual. Kaum Post Strukturalisme memiliki pandangan berbeda tentang Human Trafficking. Mereka berpendapat bahwa sifat manusia itu tidak selalu berkeinginan berhubungan seksual dengan lawan jenisnya. Mereka menyatakan ada beberapa alasan mengapa adanya Human Trafficking seperti Kemiskinan, dsb.

2.8 Budaya Pop dan Hubungan Internasional
Budaya Pop bagi Lévi-Strauss system-sistem kebudayaan merupakan gabungan yang membentuk sejenis bahasa. Dengan cara pandang demikian dapat diperoleh pemahaman yang penting tentang”Sikap sikap tak sadar” (Kridalaksana, 2005)


BAB
PENUTUP
Kesimpulan
            Post-Strukturalisme merupakan pendapat terhadap pendekatan sebelumnya yaitu Strukturalisme. Post-Strukturalisme juga merupakan bentuk penataan ulang dari pandangan Strukturalisme  untuk membuat teori-teori baru dengan cara menganalisa struktur dengan konsisten. post-strukturalisme juga menuai kritik yakni minimnya kontribusi perspektif ini untuk Studi Hubungan Internasional dan dianggap hanya terfokus kepada hal yang sifatnya mendasar. Post-strukturalisme menolah pemahaman pengetahuan empiris meskipun pendekatan kritis sering empiris.
















Daftar Pustaka



Armandha, S. T. (2018). Pasca-Strukturalisme: Mendekonstruksikan Negara-Bangsa. Pasca-Strukturalisme: Mendekonstruksikan Negara-Bangsa, 7.
Campbell, D. (2007). International Relations Theories Discipline and Diversity. In M. K. Tim Dunne, International Relations Theories Discipline and Diversity (pp. 203-228). Oxford: Online Resource Centre.
Indonesia, V. (2012, November 27). www.voaindonesia.com. Retrieved August 16, 2019, from Mesir Berkecamuk, Presiden Morsi Tetap Berlakukan Dekrit: www.voaindonesia.com/amp/1553692.html
Kridalaksana, H. (2005). Mongin-Ferdinand de Saussure. Peletak dasar strukturalisme dan linguistik modern, 47.
McHoul, A., & Grace, W. (1993). A Foucault primer: Discourse, Power and the Subject. New York: New York University Press.
Jackson, Robert dan Sorensen, 2013.Pengantar Studi Hubungan Internasional: Teori dan Pendekatan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Purwaningsih, Lia(2013), diakses dari http://liapurwaningsih-fib12.web.unair.ac.id/artikel_detail-86352-Umum-Post%20strukturalisme.html tanggal 10 Agustus 2019 Jam 11.59

 









[2] Campbell, David, 2007. Poststructuralism, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 203-228.


Selasa, 24 November 2015

Resident Evil 4 Final Version 10

Along with Resident Evil: Dead Aim and Resident Evil Outbreak, two side story titles that did not fall under the exclusive policy, it was announced on October 31, 2004 that Resident Evil 4 would come to the PlayStation 2 in 2005, citing increased profit, changing market conditions, and increased consumer satisfaction as the key reasons. The PlayStation 2 version included new features, primarily a new subgame featuring Ada Wong. On February 1, 2006, Ubisoft announced that they would be publishing the game on the PC for Microsoft Windows.[63] On April 4, 2007, a Wii version was announced, and was launched later in the year. The game features all of the extras in the PS2 version, along with other additions, including a trailer for Resident Evil: The Umbrella Chronicles.[64][65]

Resident Evil Final Version 9

".[61] In addition to the voice acting, the game's designer detailed each cinematic sequence so that each character's facial expressions matched the tone of their voice actor.[60]
Along with Resident Evil: Dead Aim and Resident Evil Outbreak, two side story titles that did not fall under the exclusive policy, it was announced on October 31, 2004 that Resident Evil 4 would come to the PlayStation 2 in 2005, citing increased profit, changing market conditions, and increased consumer satisfaction as the key reasons

Resident Evil 4 Final Version 8

Carolyn Lawrence, who provided the voice for Ashley Graham, described her character as "vulnerable, because Leon has to come to her rescue all the time".[61] She also described Kennedy's character as "more brawn, perhaps, than brain".[61]

Resident Evil 4 Final Version 7

The game's English voice actors recorded their parts in four sessions, over three to four months.[61] Capcom assigned Shinsaku Ohara as the game's script translator and voice over coordinator.[62]

Resident Evil 4 Final Version 6

In a documentary explaining the conception of the game's characters, a game designer stated he intended to make Leon Kennedy "look tougher, but also cool".[60]